Senin, 15 Desember 2008

Kumpulan Puisi Chairil Anwar

NISAN

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertakhta

(Oktober 1942)



PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali

Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

(Maret 1943)


HAMPA

kepada Sri yang selalu sangsi

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.

Lurus kaku pohonan. Tak bergerak

Sampai ke puncak. Sepi memagut,

Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti. Menanti. Menanti.

Sepi.

Tambah ini menanti jadi mencekik

Memberat-mencekung punda

Sampai binasa segala. Belum apa-apa

Udara bertuba. Setan bertempik

Ini sepi terus ada. Dan menanti.


DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk

remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling

(13 November 1943)


SAJAK PUTIH

buat tunanganku Mirat

Bersandar pada tari warna pelangi

Kau depanku bertudung sutra senja

Di hitam matamu kembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

Meriak muka air kolam jiwa

Dan dalam dadaku memerdu lagu

Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka

Selama matamu bagiku menengadah

Selama kau darah mengalir dari luka

Antara kita Mati datang tidak membelah...


SENJA DI PELABUHAN KECIL

buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(1946)


CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,

gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,

di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.

angin membantu, laut terang, tapi terasa

aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,

di perasaan penghabisan segala melaju

Ajal bertakhta, sambil berkata:

"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!

Perahu yang bersama 'kan merapuh!

Mengapa Ajal memanggil dulu

Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,

kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

(1946)



YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,

menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,

malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang

dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;

tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

(1949)


DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh

terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di tingkap merapuh

dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan

sudah berapa waktu bukan kanak lagi

tapi dulu memang ada suatu bahan

yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

(1949)


LAGU BIASA

Di teras rumah makan kami kini berhadapan

Baru berkenalan. Cuma berpandangan

Sungguhpun samudera jiwa sudah selam berselam

Masih saja berpandangan

Dalam lakon pertama

Orkes meningkah dengan Carmen pula

Ia mengerling. Ia ketawa

Dan rumput kering terus menyala

Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi

Darahku terhenti berlari

Ketika orkes memulai Ave Maria

Kuseret ia ke sana…….

(1943)


TAK SEPADAN

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkai dinding buta

Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak ‘kan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka

(februari 1943)


DENGAN MIRAT

Kamar ini jadi sarang penghabisan

di malam yang hilang batas

Aku dan engkau hanya menjengkau

rakit hitam

‘Kan terdamparkah

atau terserah

pada putaran hitam?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapankah kami atau

mengikut juga bayangan itu?

(1946)


MIRAT MUDA, CHAIRIL MUDA

Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,

Menatap lama ke dalam pandangnya

coba memisah matanya menantang

yang satu tajam dan jujur yang sebelah.

Ketawa diadukannya giginya pada

mulut Chairil; dan bertanya: Adakah, adakah

kau selalu mesra dan aku bagimu indah?

Mirat raba urut Chairil, raba dada

Dan tahulah dia kini, bisa katakan

dan tunjukkan dengan pasti di mana

menghidup jiwa, menghembus nyawa

Liang jiwa-nyawa saling berganti.

Dia rapatkan

Dirinya pada Chairil makin sehati;

hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas

Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras,

menuntut tinggi tidak setapak berjarak dengan mati

(1949)


BERPISAH DENGAN MIRAT

Matahari tiba-tiba sudah tinggi, kami 5 kali jalan

lebih lekas daripada biasa. Jam yang menatap

kami menggigil seperti kena malaria rupanya

Tiba di setasion kecil ada lagi 2 atau 3 jam untuk berhadapan.

Kopi pait dan penjual tua yang hormat ketawa saja

jadi alasan untuk bicara. Ketika kereta api bawa

aku maju bergerak, kulihat mukamu terpaling

Dan kau hilang……maka mulailah mesin dalam otakku

Mengeri meluar garis, terasa-rasa hendak pecah.

Penumpang-penumpang lain juga ikut dimakan nyala dan

kering oleh hawa sebaran diriku… Kudengar setan datang.

Sehabis itulah berdentam dari mulutku Godverd buat ganti dosa.

(1947)


SIA-SIA

Penghabisan kali itu kau datang

Membawa kembang berkarang

Mawar merah dan melati putih

Darah dan suci

Kau tebarkan depanku

Serta pandang yang memastikan : untukmu

Lalu kita sama termanggu

Saling bertanya: apakah ini?

Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi

Mampus kau dikoyak-koyak sepi

(februari 1943)



KUPU MALAM dan BINIKU

Sambil berselisih lalu

Mengebu debu

Kupercepat langkah. Tak noleh kebelakang

Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang

Barah ternganga

Melayang ingatan ke biniku

Lautan yang belum terduga

Biar lebih kami tujuh tahun bersatu

Barangkali tak setahuku

Ia menipuku.

(maret, 1943)


AJAKAN

Menembus sudah cahya

Udara tebal kabut

Kaca hitam lumut

Pecah pencar sekarang

Di ruang legah lapang

Mari ria lagi

Tujuh belas tahun kembali

Bersepeda sama gandengan

Kita jalani ini jalan

Ria bahgia

Tak acuh apa-apa

Gembira girang

Biar hujan datang

Kita mandi basahkan diri

Tahu pasti sebentar kering lagi.

(20 April 1943)


BUAT GADIS RASYID

Antara

Daun-daun hijau

Padang-padang dan terang

Anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian

Burung-burung merdu

Hujan segar dan menyebar

Bangsa muda menjadi, baru bisa bilang “aku”

Dan

Angin tajam kering, tanah semata gersang

Pasir datang mentanduskan, daerah dikosongi

Kita terjepit cintaku

– mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak

Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati

Terbang

Mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat

– the only possible non-stop flight

tidak mendapat


RUMAHKU

Rumahku dari unggun-timbun sajak

Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman

Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala

Di pagi terbang entah kemana

Rumahku dari unggun-timbun sajak

Disini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang

Aku tidak lagi meraih petang

Biar berleleran kata manis madu

Jika menagih yang satu.

(27 April 1943)


JANGAN KITA DI SINI BERHENTI

Jangan kita di sini berhenti

Tuaknya tua, sedikit pula

Sedang kita mau berkendi-kendi

Terus, terus dulu..!!!

Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris

Pelayannya kita dilayani gadis-gadis

O, bibir merah, selokan mati pertama

O, hidup, kau masih ketawa??

- 24 Juli 1943



DI MESJID

Kuseru saja Dia

Sehingga datang juga

Kamipun bermuka-muka

Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada

Segala daya memadamkannya

Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang

Gelanggang kami berperang

Binas-membinasa

Satu menista lain gila.

(29 Mei 1943)


SORGA

Untuk Basuki Resobowo

Seperti ibu + nenekku juga

tambah tujuh keturunan yang lalu

Aku minta pula supaya sampai di sorga

yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu

dan bertabur bidadari beribu

Tapi ada suara menimbang dalam diriku,

nekat mencemooh: Bisakah kiranya

berkering dari kuyup laut biru,

gamitan dari tiap pelabuhan ‘gimana?

Lagi siapa bisa mengatakan pasti

di situ memang ada bidadari

suaranya berat menelan seperti Nina, punya

kerlingnya Yati?




BERCERAI

Kita musti bercerai

Sebelum kicau murai berderai.

Terlalu kita minta pada malam ini.

Benar belum puas serah menyerah

Darah masih berbusah-busah.

Terlalu kita minta pada malam ini.

Kita musti bercerai

Biar surya ‘kan menembus oleh malam di perisai

Dua benua bakal bentur-membentur.

Merah kesumba jadi putih kapur.

Bagaimana?

Kalau IDA, mau turut mengabur

Tidak samudra caya tempatmu menghambur.

( 7 Juni 1943)


MULUTMU MENCUBIT DI MULUTKU

Mulutmu mencubit di mulutku

Menggelegak benci sejenak itu

Mengapa merihmu tak kucekik pula

Ketika halus-perih kau meluka??

(12 Juli 1943)



LAGU SIUL

Kepada Ida yang ke 20

Laron pada mati

Terbakar di sumbu lampu

Aku juga menemu

Ajal dicerlang caya matamu

Heran ! ini badai yang selama berjaga

Habis hangus diapi matamu

Ku kayak tidak tahu saja.

- 28 November 1945


DARI DIA

Buat K

Jangan salahkan aku, kau kudekap

Bukan karena setia, lalu pergi gemerincing ketawa!

Sebab perempuan susah mengatasi

Keterharuan penghidupan yang ‘kan dibawakan

Padanya.

Sebut namaku ‘ku datang kembali ke kamar

Yang kau tandai lampu merah, cactus di jendela,

Tidak tahu buat berapa lama, tapi

Pasti di senja samar

Rambutku ikal menyinar, kau senapsu dulu kuhela

Sementara biarkan ‘ku hidup yang sudah

Dijalinkan dalam rahsia.

(Cirebon 1946)


DALAM KERETA

Dalam kereta.

Hujan menebal jendela.

Semarang, Solo, makin dekat saja

Menangkup senja.

Menguak purnama.

Caya menyayat mulut dan mata.

Menjengking kereta. Menjengking jiwa.

Sayatan terus ke dada.

Tidak ada komentar: